selamat datang

Di FORUM AHMAD MUHAMMIR

Selasa, 24 November 2009

Oleh: H. Yasir Maqosid, Lc

(Pengasuh Pondok Pesantren Syafi’i Akrom – Jenggot Pekalongan)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Ali Imran: 130)

Salah satu tradisi yang berlaku di daerah kita adalah mengenang jasa-jasa ulama dengan cara memperingati hari meninggalnya ulama. Tradisi seperti ini perlu untuk dipertahankan karena dapat memotivasi generasi sekarang untuk meniru tindak tanduk dan perilaku para ulama dalam menyebarkan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat.

Selain itu, tradisi seperti ini juga tidak bertentangan dengan ajaran Islam, karena biasanya dalam memperingati hari meninggalnya ulama yang sering diistilahkan dengan haul, diselenggarakan acara-acara religius. Misalnya, membaca Al-Qur‘an, tahlil, shalawat, sedekah, dan lainnya.

Salah satu ulama yang jasa-jasanya senantiasa dikenang oleh masyarakat Pekalongan adalah Habib Ahmad bin Thalib. Beliau dilahirkan di kota Hajren, Hadramaut, Yaman, pada 1255 Hijriah atau 1836 Masehi. Pada masa mudanya, beliau menuntut ilmu di Makkah dan Madinah. Salah satu guru beliau yang terkenal adalah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.

Setelah memiliki ilmu yang mendalam, Habib Ahmad ditugaskan untuk berdakwah dan mengajar di Mekkah. Setelah tujuh tahun mengajar di Mekkah, ia kemudian kembali ke Hadramaut. Setelah tinggal beberapa lama di kota kelahirannya, Habib Ahmad merasa terpanggil untuk berdakwah ke Indonesia.

Setibanya di Indonesia, beliau kemudian ke Pekalongan. Melihat keadaan kota itu yang dinilainya masih membutuhkan dukungan pensyiaran Islam, maka tergeraklah hatinya untuk menetap di kota tersebut. Saat pertama menginjakkan kakinya di kota ini, ia melaksanakan tugas sebagai imam Masjid Wakaf yang terletak di Kampung Arab (kini Jl Surabaya). Kemudian ia membangun dan memperluas masjid tersebut.
Di samping menjadi imam, di masjid ini Habib Ahmad mengajar membaca Alquran dan kitab-kitab Islami, serta memakmurkan masjid dengan bacaan Daiba’i, Barjanzi, wirid dan hizib di waktu-waktu tertentu. Ia juga dikenal sebagai hafidz (penghapal Alquran).

Beliau menyebarkan dakwah Islam di Kota Pekalongan. Pendekatan dakwahnya yang bagus mendapat simpati dari masyarakat Pekalongan, terutama di daerah pesisir. Tidak heran banyak masyarakat yang dahulunya tidak begitu peduli dengan agama, akhirnya menjadi penganut Islam yang taat. Itulah salah satu jasa-jasa Habib Ahmad yang patut diteladani.

Dalam berdakwah, Habib Ahmad tidak menggunakan cara-cara keras ataupun radikal.

Beliau berdakwah dengan mendekati secara langsung orang-orang yang dinilainya masih membutuhkan bimbingan agama yang biasa disebut sebagai kelompok abangan. Cara-cara anti kekerasan dalam dakwahnya inilah yang terbukti sangat berhasil.

Beliau mampu menempatkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, sehingga kota Pekalongan menjadi pusat penyebaran agama Islam yang menjangkau ke seluruh pelosok-pelosok daerah.

Akhirnya beliau wafat pada Ahad, 24 Rajab 1347 H atau 1928 M, dalam usia 92 tahun, dan dimakamkan di pekuburan Sapuro. Masyarakat Pekalongan berduka dengan berpulangnya beliau ke Rahmatullah. Hingga kini, meninggalnya beliau diperingati bersamaan dengan peringatan Nishfu Sya’ban, yaitu tanggal 14 Sya’ban di Pemakaman Sapuro Pekalongan. Semoga Allah membalas jasa-jasa beliau dengan balasan yang berlipat ganda, dan mudah-mudahan kita semua dapat meneladani perjuangan beliau dalam berdakwah kepada umat. Amin Ya Rabbal Alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar